Aceh Selatan Punya Sihir ???

Aceh Selatan punya sihir ? baiklah kawan dan kawin semuanya, kalimat itu tidak benar dan mungkin kalimat itu pertama kali diucapkan oleh orang yang frustasi pada orang Aceh selatan misal ditolak cintanya oleh gadis Aceh Selatan atau kalah bersaing memperebutkan cinta dari anak Aceh Selatan atau bisa juga kalah dalam berbisnis dengan orang Aceh Selatan. Maka dihembuskanlah kalimat itu kepada khalayak umum untuk memberi stigma negatif pada wilayah terindah d Aceh ini.

Saya selaku orang Aceh yang telah pernah pergi ke Aceh selatan dan menetap disana selama beberapa hari serta sok tahu dan sok tempe tentang Aceh Selatan ingin memberikan bukti-bukti bahwasanya Aceh Selatan itu memang punya banyak “sihir lain yang membuat kita tersihir”.

Oke, sekarang kita bongkar satu persatu, “sihir pertama” yang dimiliki oleh orang Aceh selatan adalah pada umumnya mereka adalah bilingual, yakni mampu berbahasa dua bahasa yaitu bahasa Aceh dan bahasa Jamee dan saya yang sok tahu ini juga bisa sikit-sikit, ambo paham juo sikit doh mangecek basa ko. Heheehe…(jampok :D)

Bahkan ada juga yang multilingual orang Aceh selatan yaitu yang tinggal di seputaran kotafajar. Selain lidah mereka bisa “marit basa Aceh” dan “mangecek basa Jamee”, mereka juga bisa “cerok bahaso Kluet”. Jadi kalau anda ke kotafajar maka jangan terkejut telinga ketika dalam suatu toko terdengar 3 bahasa atau 4 bahasa tambah satu lagi Indonesia Raya merdeka-merdeka. Itu sihir yang pertama dari segi bahasa.

Sekarang mari kita cari lagi “sihir Aceh selatan” mulai dari awal daerahnya yakni Labuhan Haji. Di Labuhan Haji ada sebuah sungai bernama Krueng Baru yang pernah saya gunakan airnya untuk mencuci honda saya :D, diatas sungai ini ada jembatan, hai cit mandum sungai na jembatan. Man kutuleh cit meunan.

Lewat jembatan inilah kita telah sampai ke Labuhan Haji daerah pertama dalam wilayah Aceh Selatan. Di Labuhan Haji yang sekarang telah jadi 3 kecamatan ini ada sebuah pelabuhan kecil menuju pulau Hawaii, eh..maksudnya Pulau Simeulue.pelabuhan ini terletak di sebuah teluk kecil yang berbukit. Pemandangannya sangat wow dan arus gelombang sangat tenang. Saya sempat tersihir disini dengan menghabiskan waktu hampir 2 jam hanya untuk berkeliling teluk kecil ini sambil makan permen karet.

Selanjutnya mari kita ke selatan lagi, pernah mendengar lagu Rafly “pacah paghang nagari Bakiak”, sekarang kita telah sampai di Bakiak yang merupakan nama lain dari Meukek . Walaupun Meukek tak punya pelabuhan seperti Labuhan Haji, namun Meukek juga punya pantai yang mencengangkan mata. Kalau kita mau bersitirahat mari kita istirahat di Kuta Buloh, disini ramai orangnya dan termasuk wilayah yang padat di Aceh Selatan.

Istirahat sejenak di kuta Buloh, mari kita lanjut jalan-jalin lagi, kita telah sampai di Sawang, tapi ini bukan Sawang Aceh Utara namun Sawang Aceh Selatan. Di Sawang ini saya sarankan mulailah untuk menghidupkan kamera secara terus menerus karena lekukan pemandangannya mampu menyihir mata kita yang rugi kalau tidak kita poto. Karena itu siapkanlah memori yang besar sebelum sampai Sawang, kalau misal memorinya tidak cukup silahkan hapus dulu foto2 mantan pacarnya karena alam Sawang lebih menarik untuk kita foto. Setelah lewat Sawang kameranya jangan dimatikan dulu, kalau baterainya sudah hampir habis silahkan cas lagi atau beli batre baru karena kita telah sampai di Samadua. Negeri samadua ini negeri yang punya “sihir kuat”.

Bayangkan saja baru pertama masuk sudah jumpa air terjun, letakanya tepat di pinggir jalan lagi, arahnya sebelah kiri jalan. Sementara di kanannya ada laut pasir putih yang gratis untuk kita masuki tanpa harus membayar tiket. Tapi saya tak masuk ke laut itu karena sudah masuk ke air terjunnya. Ie dingin nama air terjunnya. Dibawahnya ada kolam dikelilingi batu besar sebesar moto gileng, di kolam ini banyak orang mandi sementara saya hanya duduk saja tanpa mandi karena tidak bawa baju ganti, kalau saya mandi nanti harus pulang dengan keadaan bulut, jadilah saya dipanggil agam bulut (hana lucu beh) Setelah lewat air tejun itu silahkan menikmati pantai kasiak putiah dan bendungan bate tunggai. Saya kembali tersihir disini dengan menghabiskan waktu hampir dua jam hanya untuk jalan sana jalan sini melihat lautan berteluk sempurna dan pantai pasir putih yang tak ada di kampung saya karna pasirnya berwarna hitam. Maka nikmat Tuhan manakah yang akan kita dustakan ?

Mari kita jalan lagi terus, kita akan jumpa dengan sebuah gunung bernama Gunuang Kaghambia yang artinya gunung kelapa. Di gunung ini banyak pohon kelapa namun tak perlu takut karena gunungnya tak tinggi namun tetap eksotis karena lautan berada tak jauh darinya..dan yang paling keren adalah tikungan di gunung kaghambia ini punya lekungan seperti tikungan Krueng Mane, jadi marilah hati-hati disini supaya tidak mencium aspal, nanti kalau sudah mencium aspal sudah tak suci lagi saat menikah, “dinda..kakanda mohon maaf..kakanda sudah tak suci lagi… [ apa yang kakanda telah lakukan? [ kakanda sudah pernah berciuman.. [ apaaaa ? sedih dinda mendengarnya, dengan siapa kanda ? [ dengan aspal {oh tidak apa-apa kanda”..#that_teuga_menghayal 😉

Setelah lewat gunung Kaghambia ini, sampailah kita ke Tapak Tuan, ibukota Aceh Selatan. Selamat datang di kota Naga, begitu tertulis di awal kita masuk ke kota Tapak Tuan. Kenapa dibilang kota naga ? ..ehemm…ehmm..eheeemmmm…baiklah akan saya jelaskan, kenapa kota Tapak Tuan disebut kota Naga ? itu karena ada legenda naga disini. Dahulu kala tanpa jengking ada sepasang naga yang tak punya anak lalu mereka mengadopsi seorang putri manusia sampai ia besar. Saat ia sudah besar ia ingin kembali ke ibunya namun naga dan nagi tidak mengizinkannya. Kemudian datang seorang Syekh bernama Tuan Tapa yang berhasil mengalahkan sepasang naga ini dan akhirnya sang putri kembali ke orang tuanya. Ini cerita versi singkat, kalau mau yang detail silahkan cari di google atau baca buku Darul Qutni yang menulis tentang legenda ini.

Karena sudah sampai ke Tapak Tuan, mari kita istirahat dulu, mari shalat zuhur dulu di masjid Istiqamah, sebuah mesjid berwarna orange-emas yang tepat letaknya di tengah kota Tapak Tuan. Setelah shalat disini mari kita keliling kota ini. Tujuan pertama adalah mencari makanan, kita ke Rindam dulu, ada banyak makanan enak disini, kita bisa makan sambil mendengar bunyi ombak disamping kita, sangat romantis disini ❤

Setelah kenyang mari kita pergi, eh tapi jangan lupa bayar ke kasirnya ya. Lalu ayo kita ke air terjun tingkat tujuh yang letaknya agak masuk ke dalam sedikit. Saat saya sampai ke tingkat tujuh ini saya sangat bersemangat untuk naik dari tingkat satu sampai ke tingkat tujuhnya karena setiap tingkat ada kolam tempat mandinya namun apa daya ternyata saya cuma mampu naik  sampai tingkat tiga, hek aneuk muda, kemudian saya turun lagi sambil melihat orang yang terus naik ke tingkat empat. Apa daya memang lutut sudah tak kuat lagi 😀

Puas di air tingkat tujuh karena tak sanggup naik lagi maka mari kita ke Panjupian. Ini adalah sebuah kolam pemndian yang airnya sejuk. Anda boleh percaya boleh tidak namun air di panjupian ini keluar diantara akar pepohonan yang begitu jernih sejernih cinta kita berdua ❤ <2 😀

Setelah puas mandi, saatnya kita ke Jambo Hatta, ini adalah sebuah bukit bersejarah yang letaknya sekitar 8 km dari kota Tapak Tuan. Di bukit ini wapres RI pertama Bung Hatta pernah turun dari mobilnya dan pergi ke bukit itu hanya untuk melihat pemandangan menakjubkan sambil berkata “alangkah indahnya negerimu !” saat saya sampai ke Jambo Hatta saya juga berkata hal yang sama seperti Bung Hatta ”alangkah indahnya negerimu” sambil berharap namanya akan berubah dari Jambo Hatta menjadi Jambo Munawar, namun sampai sekarang tak berubah juga rupanya.. 😡

Di pondok Jambo Hatta ini nampak kota tapak Tuan di arah kanannya dengan teluk yang melengkung sempurna sementara di kirinya juga ada teluk raksasa Lhok Rukam yang bukitnya terus memanjang seperti berbaris. Sayang sekali foto saya disini sudah hilang bersama hilangnya flasdisk, saya sangat berduka cita, kalau masih ada kan saya bisa pamer di poto profil..ckckcckc…

Setelah puas di Jambo Hatta segera hidupkan lagi starter honda dan kembali ke kota lagi, karena kita akan ke sebuah tempat yang rugi besar kalau sudah ke Tapak tuan namun belum juga ke sana. Tapi sebelumnya saya ingin memberi tahu anda satu rahasia. Janji bilang pada orang-orang lain ya ? ya baiklah saya akan ceritakan pada orang lain nanti ! janji ? iya hai,Janji ! baiklah, sebenarnya nama kota Tapak Tuan itu tidak ada……. Jeh, pakon hana ?, bak nama toko na lagoe ? bak peta na lagoe ? Iya, memang hanya disana ada nama Tapak Tuan yaitu di pamplet nama toko atau jalan serta di peta. Tapi menurut penduduk asli kota ini nama kota mereka adalah taluak, apa namanya ? TALUAK.

Taluak itu asal katanya dari bahsa jamee yang bermakna TELUK, mereka selalu menyebutnya dalam bahasa Jamee “bilo baliak lai ka Taluak  ?” (kapan pulang lagi ke Taluak) dan bukan “bilo baliak lai ka Tapak Tuan ?” (kapan pulang lagi ke Tapak Tuan). Begitu juga dengan penduduk yang berbahasa Aceh yang tinggal disekitaran Tapak Tuan seperti Aia baudang dan Mukim Sedar Samadua, mereka menyebutnya “ kamoe kemeu jak u Lhok” (kami mau ke Lhok” dan bukan “kamoe kemeu jak u tapak Tuan” (kami mau ke Tapak Tuan). Karena Lhok itu juga bermakna teluk, jadi jika kita datang ke sana menyebut “Tapak Tuan” maka para penduduk asli disana segera tahu bahwa kita ini adalah pendatang.

Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan kita ke tempat yang keren tadi yaitu kita ke gunung Lampu, letaknya lewat pelabuhan Tapak Tuan dan lewat hotel purnama . Mari parkirkan honda ayah saya (saya tidak mungkin menulis honda saya karena itu milik ayah saya) di bawah gunung ini dan mari kita mendaki batu-batu kecil yang semakin lama semakin besar seperti cinta kita berdua yang semakin hari semakin besar :p….(serius sedikit lah woi menulis).

Saat mendaki gunung lampu ini kalau anda pakai sandal japanese bersiaplah untuk membeli tali baru nanti setelah pulang seperti sandal japanese saya yang telah saya letakkan di sana, bagaimana kabarnya sekarang ya ? dia kena hujan dan sengatan matahari, sabarlah sandal japanese ku, suatu hari nanti pasti aku tidak akan mengambilmu lagi :p

Oh ya, saat sedang naik gunung ini ngeri-ngeri sedap kalau lihat ke arah bawah karena jurangnya adalah laut dengan batu karang raksasa. Tapi indahnya itu bro and sista, macam pemandangan di desktop komputer kita Lalu, untuk apa kita ke sini ? sudah, jalan terus nanti kalian akan tahu. Kon jalan hai tapi baca. Oke saya ganti kalimatnya “ sudah, baca saja terus nanti tahu sendiri”.

Baiklah, sudah sampai kemana kita ? kita telah sampai di ujung lereng gunung lampu, ada turunan dan sekarang tepat berada di tepi laut yang tak ada pantainya  karena sudah tertutup dengan batu besar. Di batu ini ada arah panah dan ada tulisan nama anak alai yang sudah pernah ke sini, mari kita ikuti arah panah tersebut.

Tapi jangan jalan dulu. Kenapa ? perhatikan dulu gelombang lautnya kalau gelombangnya besar sebaiknya mari kita pulang saja karena kalau sedang besar maka gelombangnya akan sampai ke batu tempat kita berjalan dan susah menemukan tempat berlindung kecuali naik ke gunung lagi. Gelombang ini hampir sama dengan gelombang cintaku, kalau besar maka akan memenuhi hatimu dinda …ahaaaa…#merayu ❤

Namun kalau gelombangnya teduh yuk mari jalan lagi…ikuti terus arah panah cintaku, eh salah maksudnya arah panah pada batu besar tadi dan jangan ikuti coretan nama anak alai pada batu  yang pernah kesini.. Semakin lama kita ikuti batunya semakin besar, jalan terus sampai ke sebuah batu karang yang sangat besar dan dua pohon kelapa di tebingnya.  Tadaaaa……!!!! anda telah sampai ke situs Tapak Tuan, ada sebuah jejak tapak kaki manusia berukuran besar di atas batu karang raksasa ini. Inilah jejak legenda pertarungan Syekh Tuan Tapa dengan sepasang naga. Silahkan berfoto dulu sebelum kita pulang seperti foto saya di sini…. 😀

TAPAK TUAN Bersambung ke part 2…di part dua kita akan lanjutkan perjalanan menelusuri “sihir” setengah wilayah Aceh selatan lagi dari Tapak Tuan sampaqi ke Trumon.

Tentang munawaraceh

Blogger [tapi nulis kapan enak teman nasi] dan mantan Guru [Guru Horor maksudnya]
Pos ini dipublikasikan di cerita perjalanan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Aceh Selatan Punya Sihir ???

  1. Mar Bawi Jasper berkata:

    hahhhahahhaha lawak ngon,,,, lon ureung aceh selatan cit ngon,
    hehhe
    di tunggu kunjungannya ke gigokah.blogspot.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s